Kisah Klasik

Kisah Klasik

Rabu, 18 Januari 2017

LANGIT


Hasil gambar untuk langit

"Mataku terpana dan melihatnya
mempesona nan cantik merona
siapa namanya kuingin menyapa
dia tersenyum dalam lamunannya

Kuhampiri dirinya terdiam
Kudekati dirinya seolah
Tersipu malu
Malu Tapi Mau"

 Langit adalah seorang pemuda yang sedang kasmaran dengan seorang gadis bernama senja . Langit bertemu dengan Senja dengan tidak sengaja bertemu , berkenalan , saling berbincang di saat langit sore mulai menampakkan dirinya di antara pergantian sore dengan malam. Langit terpesona melihat senyumannya yang begitu mempesona. Burung burung ikut serta menyanyikan kicauan nya bersama dengan raut wajah Langit yang berbinar-binar . 
"Mendengar ceritamu membuat serasa dunia ini hanya milik kita berdua" gumamnya. Moment itu merupakan moment terbaik yang pernah di rasakan oleh Langit. Bersenjagurau saling bercerita melupakan gundah meluapkan senyuman antara keduanya. 

Mengakhiri pertemuan tersebut , Langit pulang dengan senyum yang lebar , tak henti henti memikirkan Senja

Entah apa yang di pikirkan Langit , ingin sekali mengatakan dia menyukai Senja. "Malu tapi ingin ", gumamnya. Pikirannya terperajat ketika melihat keindahan senja. Bertanya tanya apakah masih bisa bertemu dengan dirinya lagi. "Sudikah dia menjalani cerita bersamaku?", tuturnya dalam hati,

Langit memutuskan untuk singgah kerumahnya. Dandan necis bak Elvis berharap Senja menerima bunga yang ia bawa dengan sepenuh hati. Di keluarkan motor andalan nya , tak peduli duit tipis bensin habis yang penting pengorbanan nya. Memang begitu asmara , sang pejuang cinta tak lelah jua walau keadaan tak memungkinkan tetap saja, Tapi dalam perjalannya kehujanan, 
Sampai depan rumah , badan basah dingin menusuk tulang. Dengan penuh harap memasuki gang rumah Senja namun tak disangka dia di jemput oleh seseorang , "SANG RODA EMPAT !" ,teriaknya dalam hati, 


"Apa yang aku lakukan mungkin terlalu cepat , apakah aku yang terlalu naif sehingga tak memikirkan kemungkinan lainnya?" 

Pulang dengan tangan hampa , hati pedih bagai tersayat. Banyak rasa yang tak mampu Langit utarakan saat itu.

"aku merindukannya walau hanya sebentar aku tetap merindukannya , bersamanya adalah moment langka bagiku,tak pernah aku merasakan hal seperti itu dalam hidupku".

Malam hari menatap langit . Ditemani bintang bintang , menikmati indahnya malam sendirian. Bertanyalah Langit pada dirinya sendiri 

"Apa yang dia pikirkan ?, adakah aku di hatinya ?karena aku tak sanggup jauh darinya"

Rindu yang tak tertahan lagi , berharap bintang menyampaikan salam rindu miliknya

"Hei kau yang jauh disana , mimpikan aku di lelapmu , hingga engkau sadari , ku selalu memelukmu"

" Walau jarak memisah , hanya bayangmu yang ku sentuh , namun aku bertahan , menanti hadirmu disini"

Diikuti dengan rintikan hujan yang menyusul rasa rindunya. Bernyanyilah dia di dalam ruang imaji yang begitu luas dalam pikirannya, membebaskan segala gundah yang ada dalam otaknya.


"Rintik hujan ini menenangkan ku, sebaiknya ku nikmati malam ini, malam di balur rindu yang mungkin tak tersampaikan, biarkan ku simpan rindu ini , sampai kapanpun rindu ini milikmu , Senja"


Langit pun terlelap dalam nuansa petrikor, menyimpan rindu dan haru yang akan dia jaga sampai pertemuan nya lagi dengan sang kekasih.
-Sekian-



19-01-2017
Kisah terinspirasi dari lirik lagu yang ku dengar beberapa hari lagu.
terkesan mello memang , tapi selama menjadi pribadi melankolis belum dinyatakan bersalah, maka akan aku teruskan. 
-Bagas Indria Wibisono-

Kamis, 05 Januari 2017

APA KABAR ?

Apakah kau takut dengan apa kabarku ?
Apakah apa kabarku terlalu mengerikan
Terlalu kau anggap serius

Atau

Kau memang jijik jika aku menanyakan
Apa kabar?
Baik baik saja bukan?
Bagaimana keadaanmu?

Aku bingung

Aku cemas

Jika terus seperti ini
Bagaimana aku bisa mengerti kabarmu?
Jika kau pun tetap tak menjawab pertanyaanku?

Apakah
Aku yang terlalu ambisius?
Sehingga kau begitu takutnya
Untuk menunjukkan kabarmu ?

Jika begitu
Biarlah aku menanti kabarmu saja
Entah lewat dari mana
Biarkan aku disini menanti
Entah sampai kapan menunggu hari.



05-01-2017
Bagas Indria W
di Barn Cafe bersamaan dengan diskusi politik kawan kawan saya

Selasa, 03 Januari 2017

BUKIT TAK BERNAMA

Bukit Tak Bernama
Mungkin sangat asing bagiku untuk mengerti keberadaanmu
Walau terpandang di mataku
Banyak kejanggalan tentangmu
Penasaran.
Ingin tahu.
Apa yang ada di dalam benakmu?

Rasayang menghantui ini
Membuatmu ada dalam mimpi.

Rasa mendesak ini
Memunculkan rasa untuk ingin lebih tahu lagi.

Atau sebenarnya kau berusaha memberi tahu seperti apa diriku ketika aku ingin mengetahui keberadaanmu?

Atau kau hanya ingin sebagaimana adanya
tanpa ada yang tau seperti apa?

Apa maksud dan makna semua ini?
misteri.

Mungkin di lain sisi
Kau masih ingin bersembunyi
Di balik kabut yang dingin
Tanpa ada yang mengusik.

Sepenggal deskripsi tentang bukit tanpa nama , terimakasih atas pertemuan singkat ini, kau mengajarkanku banyak hal tentang apa yang tidak aku sadari
wahai bukit tak bernama.

-Bagas Indria Wibisono -
-02-01-2017-

KISAH BUKIT TAK BERNAMA DARI PERSPEKTIF @dilladkiras


Ini adalah kisah yang di tulis oleh rekan saya @dilladkiras karena memang saya dasarnya lebih suka mengisahkan kisah ini secara lisan atau saat kita bertemu . langsung saja


Cerita di mulai dari camp mawar yg superrr rame. Setelah pasang2 alat pendakian, kita start naik ngikutin petunjuk yg ada di bawah, tulisannya "camp mawar, puncak ke↖️". Naik lah kita ngikutin petunjuk yg ada, ngelewatin banyaak bgt tenda2 yg siap2 buat taun baru. Kita juga saling sapa orang2 yg ada di camp, sambil sekalian nanya "puncak arah mana ya mas?" Dan orang2 pada jawab "naik aja mas". Salwa sebelumnya pernah naik ungaran juga dan sampe puncak, tp kmrn dia sering bgt minta break, dia bilang kalo jalannya bakal ada yg datar. Akhirnyaa kita ngelewatin ratusan tenda yg mau ngerayain taun baru dan sampe lah kita di jalur pendakian. Medannya nanjaak terus, dan vegetasinya lumayan rapet, jalannya juga bisa dibilang cukup kecil dibanding gunung2 biasanya. Jadi kita buat urutan jalan, putra sama wibi paling depan buat cari jalan, salwa sama jin, dan yg di belakang aku sama aldi. Aku ngga ngerasa janggal sama sekali, sampe aldi terus terusan nanya ke salwa "jalannya bener kaya gini wa?" Dan salwa jawab "pokoknya aku jalannya ada datarnya". Setelah 1,5jam jalan, kita ketemu jalur persimpangan, yg ke kanan ada jalan tp ketutup sarang laba laba yg tandanya pasti gaada orang sblm kita yg lewat situ, jalan yg ke kiri jalan tp semacam kaya dikasih palang biar orang ga lewat. Dari situ salwa mulai sadar kalo dia ga pernah ngelewatin jalan ini, dan aku jg baru sadar kalo waktu dulu aku ngecamp di mawar, orang orang mau muncak bukan naik dr mawar, tp basecamp belok kanan. Dari situ kita mulai mutusin kalo kita salah jalan dan harus balik. Setelah bbrp menit kita jalan buat turun, kita ketemu pasangan yg naik gunung berdua, kita lsg nanya "mas, jalannya bener lewat sini?" Terus mas nya jawab "bener mas, saya dah sering lewat sini" terus kita ngerasa sedikit aman kalo ternyata jalan yg kita lewatin emang ga salah, dan kita lanjutin buat balik lagi naik. Rombonganku yg tadinya 6 orang ketambahan mas sama mbaknya yg kita ketemu tadi.
Sepanjang jalan kita diskusi jalan sama masnya, awalnya mas nya keliatan yakin kalo dia emang beneran pernah lewat situ kan, terus salah satu dr kita penasaran dan nanya ke masnya kapan terakhir lewat sini, dan ternyata 10taun yg lalu👌😊. Makin naik kita makin ngelewatin jalan yg bercabang, dan masnya ketika ditanya malah makin ragu. Kita emang ga begitu banyak ngobrol sm mbak sm mas nya, karna kita ngerasa mereka emang ga interest buat diajak ngobrol. Dan ada satu hal lagi yg bikin janggal, mbak nya naik pake sendal crocs😂 Jalan demi jalan, tanjakan demi tanjakan, sampelah kita di persimpangan lg yang bikin kita bingung, kalo ke kiri ada jalan tp ketutupan pohon beringin, kalo ke kanan kita ngelewatin kaya semacam kali yg udah mati, dan jalan ke arah kali itu dan ngelewatin ilalang rapet yg seolah2 itu bukan jalan. Dan akhirnyaa kita nentuin buat jalan ke arah kanan. Long story short kita akhirnya nemu semacam tempat buat ngecamp yg lumayan enak dan disitu juga ada sisa-sisa sampah yg nandain kalo disitu pernah ada kehidupan. Akhirnya kita mutusin buat ngecamp disitu karna waktu juga udah nunjukin pukul 00.00
Jadi posisinya mbak sama mas nya itu ga bawa logistik dan ga bawa sleepingbag + tenda. Kebetulan kita bawa 2 tenda, yg satu kapasitas 4 orang yg satu kapasitas 2 orang. Aku langsung masang tenda dibantuin aldi sama jin, dan salwa langsung masak. Wibi yg ngga ngapa2in aku suruh nyenterin kan, tp dia kaya orang bingugg gitu lo waktu nyenterin sampe akhirnya aku agak mbentak dia. Akhirnya tenda 22 nya berdiri, kita ber6 masuk ke tenda kapasitas 4, dan mas nya sm mbaknya masuk ke tenda kapasitas 2, barengan sm barang2 kita. Waktu kita masang tenda mbaknya emang posisinya udah semi hipotermia, badannya basah dan udah menggigil, terus aku paksa masuk ke tenda terus takasiin jaketku buat mbaknya, dan ekspresinya mbaknya tu malah ketawa cekikian kaya "hihihi". Dan lagi lagi aku ga sadar kalo mbaknya ketawa itu hal yg janggal. Akhirnyaa kita semua istirahat. Sebelum aku tidur pules aku sempet denger putra, aldi, sama jin ngobrol. Putra gojek terus bilang "eh aku wedi tenan nek pas awakdewe tangi tiba tiba ning kuburan" terus aldinya nanggepin "aku wedi meneh nek pas medun jebul wit ringin e ilang" daan habis itu semuaanya hening. Habis itu aku tidur pules dan cuma kebangun garagara dibangunin salwa soalnya salwa kebelet pipis. Di nuansa taun baru kita cuma denger suara kembang api yg ga begitu keras. Jadi disana emang jauh bgt dr hiruk pikuk taun baru. Ternyata jin ngga bisa tidur, pas jam 3an dia ngerasa kalo diluar itu terang dan langitnya warna oren, kaya udah pagi padahal masih jam 3. Dia cuma diem aja dan ga cerita sama siapa siapa.
Akhirnyaa pagi juga, aku yg terakhir bangun, soalnya emang aku ngerasa tempat itu enak bgt, ditambah lagi ga begitu dingin jd aku ngerasa tambah nyaman. Jin sama wibi posisinya udah diluar, pas aku bangun tenda sebelah juga pas mbuka tenda, dan fyi mbaknya tiba tiba udah sehat padahal semalem hipotermia lumayan parah. Mereka dah siapsiap buat turun dan udah packing, selayaknya orang jawa jin tanya ke mas nya "lho mas udah mau turun po?" Dan ternyata bener mereka mutusin buat turun dan nyusurin sungai biar sampe ke jalan pendakian yg asli. Akhirnya mereka pamit sekitar jam 7 lebih. Jam setengah 8 kita denger ada suara orang, dan ternyata ada rombongan ngelewatin camp kita. Mereka cerita kalo dari basecamp jam 6 pagi, terus mereka bingung kok jalannya muter2. Terus kita nanya, mereka ketemu pasangan ngga yg baru turun barusan, dan and ternyata.. Mereka ga ketemu siapasiapa, padahal jalannya cuma ada jalan yg kita lewatin semalem. Dan lagi-lagi kita ngga begitu merasa janggal. Akhirnya rombongan tadi kita suruh nyusurin sungai kaya jalur yg dipake mas sm mbaknya turun. Terus pas mau bongkar tenda, kita nemuin mie yg dimasakin semalem buat mereka berdua ga dimakan sm sekali. Dan posisinya semalem itu badannya mbaknya sm kakinya tu basah makannya kita suruh masuk ke sleeping bag, dan waktu aldi mau pake sleepingbangnya, sleepingbangnya kering gan. Padahal semalem juga hujan, paling engga sb nya lembab. Terus kita packing buat turun.
Pas turun si putra dan wibi yang biasanya buka jalan tetep dijalan yang depan. Kita berusaha untuk melewati jalan yang tadi malem kita lewati. Terus kita sempet kebngungan. Putra sama wibi berkalikali mencoba menemukan jalan dan gak nemu. Bolak balik ke atas mencari jalan juga gak nemu. Kita naik turun beberapa kali dan berenti di tempat yg sama lagi. Aldi tanya sama salwa "wawak logistik masih ada?" Salwa jawab "masih". Aku langsung ketakutan pas aldi bilang kaya gitu terus aku ditanyain aldi "kamu kenapa" aku sampe jawabnya "aku takut banget di" sambil bisik2. Akhirnya kita mutusin buat istirahat bentar berdoa. Pikiranku dah macem2, tp aku tetep gamau ngomong apapun dan tetep diem. Kita menuju ke jalan yang mengarah ke kali, yg awalnyaa wkatu putra sama wibi nyari jalan, jalan nya ketutup. Akhirnya aldi ikut mencari jalan dan kita ketemu jalan. Jalan yang kita lewati pas turun dan ngelewatin sungai yg semalem. Tapi anehnyaa kita ngga nemuin beringin yg semalem, padahal jarak dari beringin ke tempat camp kita ga begitu jauh, wibi sama putra udah nyoba nyari juga gaada beringinnya. Akhirnyaa kita turun dan aku mulai tenang, kita sempet foto-foto dan pas berenti jin nemuin karcis tulisannya "lereng welir" bukan gunung ungaran. Aku sempet shock dan ketakutan kalo akhirnya turunya bukan di camp mawar, tp kita yakin kalo ngrlewatin jalan yg semalem. Terus kita juga ngelewatin pohon yg dikasih tanda kaya kain gitu, tp keliatan bgt kalo itu tanda dah lama bgt soalnya dah lumutaan dan rapuh, kaya ga cuma setaun dua taun disitu. Dan anehnya lagi kita ngga nemuin jalan yg ada palangnya. Akhirnya kita tetep turuuuun dan sampe lah lagi ke camp mawar tp yg bagiaan menjauhi parkiran. Terus kita jg baru sadar kalo ternyata kita ga nulis buat pendaftaran karna mungkin dah ramee bgt waktu taun baru, kita jg gadapet peta atau nomer di base camp.
Alhamdulillah bgt akhirnya kita bisa sampe basecamp, yg awalnya kita punya niat buat marah2 sm pihak basecamp soalnya gajelas kita malah mutusin buat langsung pulang. Akhirnya kita pulang dan sampe rumah salwa dgn selamaat. Tapi akhirnya kita buka-bukaan di rumah salwa. Ternyataa waktu wibi kaya orang bingung pas aku minta disenterin, dia ngeliat sekelebet bayangam item di belakangku. Pas putra sama wibi sama mas nya nyari jalan sm masnya juga dari awal mereka dah ngeliat bayangan itu soalnya mereka posisinya paling depan, dan gaada yg berani ngomong. Terus pas salwa masak juga salwa ngeliat bayangan itu. Pas turun juga si jin kan paling belakang sama salwa, jin sampe gaberani ngeliat belakang soalnya jin ngeliat bayangan item itu. Yg galiat cuma aku sama aldi. Dan anehnya lagi, mas nya sama mbaknya tu ga makan mie nya blasss padahal kan aku yakin mereka tu kelaperan soalnya aku nanya bawa logistik apa, mereka cuma bawa air panas di termos doang. Dan aku sampe skrg masih bingung apa yg salah dr kita soalnya dari awal kita ga aada niat apaapa, berdoa jg, dan ga niat macem2. Selesai alhamdulillah mbak dildil gajadi ilang